6 Fakta Menarik tentang Bulukumba, Lokasi Pembuatan Pinisi yang Melegenda

12 Maret 2021

Foto Berita

Bulukumba berlokasi di ujung selatan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.154,67 kilometer persegi dan berpenduduk sebanyak 395.560 jiwa dengan jarak tempuh dari Makassar sekitar 153 kilometer.

Bulukumba ini berbatasan dengan Kabupaten Sinjai di sebelah utara, sebelah timur berbatasan dengan Teluk Bone. Sementara ,di sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores dan di sebelah barat berbatasan dengan Bantaeng.

Bulukumba terkenal dengan industri perahu pinisi yang banyak memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Namun, Bulukumba tak hanya itu. Liputan6.com merangkum enam fakta menarik Bulukumba yang dikutip dari berbagai sumber, Jumat, 5 Februari 2021.


1. Asal Usul Nama Bulukumba

Secara etimologis, penamaan "Bulukumba", konon bersumber dari dua kata dalam bahasa Bugis yaitu "Bulu’ku" dan "Mupa" yang dalam bahasa Indonesia berarti "masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya". Mitos ini pertama muncul pada abad ke–17 Masehi ketika terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar di Sulawesi, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone.

Di pesisir pantai yang bernama "Tana Kongkong", di situlah utusan Raja Gowa dan Raja Bone bertemu. Mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing.

Bangkeng Buki' (kaki bukit) yang merupakan barisan lereng bukit dari Gunung Lompobattang diklaim oleh pihak Kerajaan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaannya mulai dari Kindang sampai ke wilayah bagian timur. Namun, pihak Kerajaan Bone berkeras memertahankan Bangkeng Buki' sebagai wilayah kekuasaannya mulai dari barat sampai ke selatan.

Berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetuslah kalimat dalam bahasa Bugis "Bulu'kumupa" yang kemudian pada tingkatan dialek tertentu mengalami perubahan proses bunyi menjadi "Bulukumba". Konon, sejak itulah nama Bulukumba mulai ada dan hingga saat ini resmi menjadi sebuah kabupaten. Hari jadi Bulukumba ditetapkan pada 4 Februari 1960 melalui Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 1994

2. Bumi Panrita Lopi

Bulukumba terkenal sebagai daerah bermukim ahli pembuat kapal tradisional pinisi sehingga digelari Bumi Panrita Lopi. Dalam bahasa setempat, Panrita berarti ahli atau pengrajin, sedangkan Lopi artinya kapal, sehingga secara sederhana Panrita Lopi bermakna ahli pembuat kapal.

Layar perahu pinisi berjumlah tujuh buah yang melambangkan jumlah kecamatan di Bulukumba. Namun kini, Bulukumba telah dimekarkan menjadi 10 kecamatan.

Teknologi pembuatan kapal pinisi di Bulukumba telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia. Pinisi yang dibuat di daerah ini sudah mengarungi lautan dunia. Contohnya pinisi Nusantara yang dilayarkan dan berhasil mengarungi Samudera Pasifik sampai ke Vancouver, Kanada.

3.Adat Istiadat Masyarakat Bulukumba

Anynyorong Lopi termasuk ke dalam proses adat istiadat atau ritus dan perayaan-perayaan yang sering dilakukan oleh masyarakat Bulukumba. Annyorong Lopi terdiri atas dua kata, yaitu annyorong (mendorong) dan lopi (perahu). Jadi, Annyorong Lopi berarti mendorong perahu atau peluncuran perahu.

Annyorong Lopi adalah suatu aktivitas ritual yang dilakukan oleh masyarakat Bonto Bahari, sebagai suatu tanda syukur atas selesainya suatu kegiatan pembuatan perahu, dan perahu tersebut akan dioperasionalkan di laut.

Hal ini didasarkan oleh sistem kepercayaan yang dianut pada masyarakat Bugis, yang menyatakan bahwa segala sesuatunya yang dilakukan oleh manusia di dunia adalah kehendak oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, setiap aktivitas yang relatif berskala besar dan berhasil diwujudkan, senantiasa dilakukan upacara syukuran, sebagai pertanda terima kasih kepada Tuhan atas berkah yang diberikan kepadanya.

Prosesi upacara Annyorong Lopi terdiri dari atas empat tahapan. Tahap pertama, sore hari dilakukan acara penyembelihan hewan kurban, sehari sebelum perahu peluncuran. Tahap kedua, acara syukuran yang dirangkaikan dengan acara songka bala (tolak bala). Acara ini dilakukan pada esok pagi pada hari peluncuran.

Tahap ketiga, pembuatan ammossi (membuat pusat perahu), dilakukan setelah acara pembacaan kitab al-barazanji dan songka bala selesai. Tahap keempat, yang merupakan inti dari semua rangkaian upacara yakni peluncuran perahu.


4. Kehidupan Suku Kajang, Bulukumba

Salah satu suku yang memiliki kehidupan yang berbeda dengan suku lainnya di Bulukumba adalah Suku Kajang. Suku ini salah satu suku yang tinggal di pedalaman Bulukumba.

Bagi mereka, daerah tersebut dianggap sebagai tanah warisan leluhur dan mereka menyebutnya, Tana Toa. Kawasan adat ini dipimpin oleh seorang pemimpin yang bergelar Amma Toa.

Suku Kajang identik dengan kepercayaan yang sangat kuat, yang membedakannya dengan budaya- budaya lainnya, yakni bukan hanya soal berpakaian hitam- hitam setiap harinya, tetapi juga keyakinan mereka yang sangat kuat. Siapa saja yang memasuki kawasan adat tersebut, ditekankan untuk melepas alas kaki.

Selain itu, dianjurkan pula untuk memakai pakaian berwarna hitam dan tidak menggunakan kendaraan apapun. Masyarakat Suku Kajang memang diikat aturan agar masyarakatnya bertutur kata baik. Tidak mengeluarkan bahasa yang tidak sedap didengar. Kata Amma Toa, "Bahasa kotor dilarang. Kalau ada, didenda beli pakaian dua juta".

Masyarakat Suku Kajang juga dikenal dengan keterampilannya menenun. Hal ini dijadikan sebagai sumber pendapatan masyarakatnya. Selain menenun, sumber penghasilan warga Suku Kajang adalah bertani dan berkebun. Hasil pertanian dan perkebunan dijual di pasar-pasar tradisional di luar kawasan adat Suku Kajang.


5. Fakta Kapal Pinisi dari Bulukumba

Sejak dahulu, orang Bulukumba terkenal memiliki kemampuan membuat kapal pinisi. Pusat kerajinan perahu pinisi terletak di Kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba. Hingga saat ini, Bulukumba masih dikenal sebagai produsen perahu pinisi, di mana para pengrajin tetap mempertahankan tradisi dalam pembuatan perahu tersebut.

Lamanya pembuatan sebuah perahu yaitu sekitar tiga hingga enam bulan. Kadang-kadang lebih lama, tergantung dari kesiapan bahan dan musim. 

Pembuatan perahu pinisi cukup unik, karena prosesnya memadukan keterampilan teknis dengan kekuatan magis. Dimulai dengan pemilihan kayu, prosesnya tak bisa sembarangan, melainkan harus mengikuti hari baik yang ditetapkan.

Hari baik untuk mencari kayu biasanya pada  hari ke-5 atau hari ke-7 di bulan tersebut. Penentuan hari tersebut pun tentu saja mempunyai arti tersendiri, angka lima melambangkan rezeki yang telah diraih, sedangkan angka tujuh melambangkan hoki atau akan mendapatkan rezeki.

Fakta unik lainnya bahwa perahu ini hanya dikerjakan oleh lima orang, meskipun terkadang seperti tidak masuk akal. Masyarakat sekitar percaya jika perahu satu ini dikerjakan secara beramai-ramai atau banyak orang, akan mempengaruhi atau mengurangi nilai seni dari perahu itu.


6.Coto Kuda Bulukumba

Jika di Makassar Anda sering mendengar makanan berupa Coto Makassar, Anda bisa menemukan Coto Kuda saat berada di Bulukumba. Makanan ini terkenal karena rasanya yang gurih dan memiliki aroma yang harum. Hal ini dikarenakan di dalamnya berisi daging sapi dan juga jeroan yang diolah dengan menggunakan racikan dan bumbu khusus.

Dibandingkan dengan Coto Makassar, makanan satu ini memiliki aroma yang sangat khas. Hal ini dikarenakan selain menggunakan bahan berupa daging sapi, Coto Kuda ini juga menggunakan daging kuda.

Daging tersebut memiliki tekstur yang sedikit lebih keras dibanding dengan daging sapi. Untuk itu, ketika Anda berada di Bulukumba, maka wajib untuk mencicipi hidangan unik satu ini. (Melia Setiawati)

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4479334/6-fakta-menarik-tentang-bulukumba-lokasi-pembuatan-pinisi-yang-melegenda

Berita Terkait

Foto Berita
Musyawarah Desa Penetapan Hasil Pendataan SDGs Desa Tahun 2021

23 Agustus 2021

Bertempat di Aula Kantor Desa Darubiah telah diadakan Musyawarah Penetapan hasil Pendataan SDGs Desa tahun 2021 yang dihadiri oleh Pemerintah Desa Darubiah, Badan Permusyawaratan Desa(BPD), Pendamping Desa, Babinsa Desa Darubiah dan Tim Pokja Pendata SDGs (Senin,21/06/2021).

"Desa kita telah selesai melaksanakan Pendataan SDGs Desa dan mencapai 100%. Semoga Hasil dari pemutakhiran data desa dapat digunakan sebagai basis penyusunan Rencana Pembangunan Desa dan Daerah. Dengan begitu, program-program yang akan dilaksanakan daerah akan tepat sasaran karena berbasis pada permasalahan dan kebutuhan yang terjadi di desa." tutur Kepala Desa Darubiah, Andi Arlinda dalam sambutannya.

Berdasarkan hasil Pendataan SDGs Desa Tahun 2021 Desa Dungmiri ada sebanyak 18 RT (Rukun Tetangga), 868 KK (Kepala Keluarga) dan 2869 Individu.

Foto Berita
Ujian atau Tes Calon Perangkat Desa

23 Agustus 2021

Panitia penjaringan dan penyaringan perangkat Desa formasi Kasi Kesejahteraan dan Pelayanan Kamis (08/04/2021) mengadakan ujian tulis, ujian praktek komputer dan wawancara kepada peserta calon perangkat Desa Darubiah yang sudah mendaftar dan memenuhi segala administrasi. Pada pelaksanaan ujian ini ada 2 nama pendaftar yaitu :

1. Andi Anna Rinayah

2. Winda Eka Sari

Pelaksanaan ujian berlangsung sangat tegang, masing masing peserta di uji kemampuannya dalam mengerjakan soal yang terdiri dari 25 nomor soal pilihan ganda. Ujian praktek komputer menggunakan aplikasi Microsoft Word dan Microsoft Excel dikerjakan dalam waktu 30 menit serta Tes wawancara selama kurang lebih 1 jam.

Foto Berita
Pembekalan Bagi Tim Relawan Pokja Pemutakhiran Data IDM SDGs Desa

23 Agustus 2021

Dalam rangka persiapan pelaksanaan pemutakhiran data Indeks Desa Membangun (IDM) berbasis Suistanable Development Goals (SDGs) Desa atau (tujuan pembangunan berkelanjutan desa) di Desa Darubiah Kamis (08/04/2021) mengadakan pembekalan. Acara pembekalan ini dilaksanakan di Aula Kantor Desa Darubiah yang dihadiri oleh 27 peserta yang dimulai pukul 14:00 hingga 17.00 WITA. Pesertanya terdiri atas perangkat desa, ketua RT dan tim pendataan masing-masing RT. Acara ini mengundang Pendamping desa, Ir. Sunandar Syam sebagai narasumber pada pembekalan pemutakhiran data IDM.

Dalam pembekalan, tim pendataan dibimbing untuk mengisi lembar kuesioner dan dilatih untuk bisa input secara online hasil pendataanya melalui aplikasi SDGs Desa dari Kementrian Desa yang di install di hp android. Pemutakhiran data berbasis SDGs Desa adalah pemutakhiran data IDM yang lebih detail lagi, lebih mikro, sehingga bisa memberikan informasi lebih banyak. Sebagai proses perbaikan sehingga ada pendalaman data-data pada level RT, keluarga, dan warga. Tujuan SDGs Desa adalah upaya terpadu mewujudkan desa tanpa kemiskinan dan kelaparan, desa ekonomi tumbuh merata, desa peduli kesehatan, desa peduli lingkungan, desa peduli pendidikan, desa ramah perempuan, desa berjejaring, dan desa tanggap budaya untuk percepatan pencapaian.

Setiap tim pendata diberikan ATK sebagai pelengkap saat melaksanakan kunjungan ke rumah warga. Tugas tim pendata adalah mengisi kuesioner untuk keluarga (rumah tangga) dan kuesioner untuk individu. Isi kuesioner untuk keluarga mencakup deskripsi lokasi, deksripsi keluarga, dan deskripsi permukiman. Sedangkan isi kuesioner untuk individu mencakup deskripsi individu, deskripsi pekerjaan, deskripsi kesehatan dan deskripsi pendidikan.