Kepala Desa pakuli Kec. Gumbasa sangat mengapresiasi kinerja Polres Sigi dalam mengungkap dan mengamankan pelaku penyalah gunaan narkoba di wilayahnya

02 November 2021

Foto Berita

Investigasi Bhayangkara Indonesia.com. SIGI, Dalam upaya pemberantasan peredaran narkoba di wilayah kabupaten Sigi oleh Polres Sigi melalui sat narkoba, kepala Desa pakuli bapak Parhan yabu sangat mengapresiasi kinerja kepolisian polres Sigi yang berhasil menangkap pelaku penyalah gunaan narkoba di desanya beberapa waktu yang lalu.

Hal ini di sampaikannya ketika ditemui di kantor Desa pakuli, Senin 15/01-2021. Dalam keterangan nya beliau menyampaikan bahwa narkoba adalah musuh kita bersama dan harus kita perangi, karena merusak generasi bangsa.

Secara blak-blakan beliau menyampaikan, bahwa pelaku penyalahgunaan narkoba yang di tangkap oleh pihak kepolisian di desa pakuli, adalah adik kandung saya sendiri. Tapi saya tidak sedikit pun memberikan ruang dan toleransi terhadap kasus yang menimpah adik saya tersebut.

karena perbuatannya melanggar hukum dan merusak bangsa dan generasi kita, dan harus di tindak tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di negeri ini.

Hal ini memberikan pelajaran bagi kita semua untuk menjauhi barang haram tersebut.

Apalagi kita ketahui bersama bahwa, Perintah Bapak Kapolri sangat jelas, tentang pemberantasan penyalahgunaan narkotika di Indonesia. “tegas Parhan yabu, selaku kepala Desa pakuli yang disampaikan nya dalam suasana rapat Desa bersama tokoh dan elemen masyarakat, ketika di temui tentang perihal warganya yang di amankan oleh Sat narkoba polres Sigi beberapa waktu yang lalu akibat penyalahgunaan dan peredaran narkoba.

Beliau menghimbau kepada masyarakat narkoba adalah musuh bangsa dan musuh kita bersama, marilah kita memberantasnya secara bersama. Laporkan kepada pemerintah desa dan pihak kepolisian, jika ada warga yang di curigai sebagai pemakai dan pengedar narkoba. Apalagi komitmen dari kapolres Sigi bapak AKBP yoga Priyahutama.SH.S.I.K.MH. Yang mana beliau tidak memberi ruang bagi pelaku dan penyalahgunaan narkoba dan obat terlarang.

Marilah kita perangi narkoba dan sejenisnya, karena barang haram tersebut merusak fisik dan mental generasi kita, khusus nya generasi muda kedepannya sebagai harapan bangsa dan harapan pembangunan.”ungkap Parhan yabu,” selaku kepala Desa pakuli mengakhiri pembicaraan nya.

( Faisal )

https://investigasibhayangkara.com/kepala-desa-pakuli-kec-gumbasa-sangat-mengapresiasi-kinerja-polres-sigi-dalam-mengungkap-dan-mengamankan-pelaku-penyalah-gunaan-narkoba-di-wilayahnya/

Berita Terkait

Foto Berita
Kepala Desa Pakuli Hadiri Pembukaan MTQ Ke VII Tingkat Kabupaten Sigi

01 Desember 2021

Kontingen khafilah Kecamatan gumbasa mengikuti Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) Ke VII Tingkat Kabupaten Sigi, yang di laksanakan di Desa Kapiroe, Kecamatan Palolo dilaksanakan pada tanggal 30 November - 04 Desember 2021. kegiatan ini merupakan ajang silaturahmi bagi umat Islam di wilayah kabupaten Sigi. Kegiatan ini juga diramaikan dengan lomba keagamaan Islam, seperti Tilawah, Tahfiz dan lainnya.

Pembukaan kegiatan yang begitu meriah Yang di laksanakan pada selasa malam (30/11), dihadiri oleh Bapak Wakil Bupati Sigi, bapak Dr. Samuel Yansen Pongi,SE., M.Si, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sigi, Ketua DPRD Kabupaten Sigi, para pimpinan OPD di wilayah Kabupaten Sigi. Camat Gumbasa, Kepala KUA Kecamatan Gumbasa, PKK, serta para Kepala Desa sekecamatan Gumbasa dan lainnya,dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ada.   

Bapak Bupati Moh. Irwan, S.Sos., M.Si dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wakil Bupati Sigi, mengatakan bahwa membaca dan mengamalkan Alquran adalah bentuk pengalaman terhadap nilai - nilah yang terkandung dalam al-qur'an, selain itu kegiatan ini juga sdh teragendakan dalam RPJMD Kabupaten Sigi.

"Musabaqoh Tilawatil Qur'an ini di buat dengan tujuan agar supaya umat islam di wilayah kabupaten Sigi, agar Menjaga ukhuwah islamiah,  syiar agama Islam dan mengagungkan Alqur'an, selain itu, kegiatan ini juga sebagai wadah awal untuk membina qori dan qoriah yg terstruktur dan berkelanjutan" Ujar Pak Wakil Bupati pada pembukaan MTQ ke VII Kabupaten Sigi.

Menurut Info dari Panitia LPTQ kecamatan Gumbasa, bahwa Pada pelaksanaan  kegiatan tersebut, Kecamatan Gumbasa mengirim sebanyak 23 Peserta yang akan mengikuti  11 jenis lomba. Para peserta merupakan putra – putri wilayah kecamatan Gumbasa yang memiliki bakat dan telah melakukan monitoring serta latihan yang serius.  Selain Kecamatan Gumbasa, Kegiatan juga di ikuti oleh 15 kecamatan lainnya yang berada di kabupaten Sigi. Tak ketinggalan, Desa Pakuli mengirimkan Putra – Putri Desa Pakuli sebagai peserta mewakili khafilah kecamatan Gumbasa.

Kepala Desa Pakuli, Bapak Parhan juga turut menghadiri dan mendampingi kontingen dari kec. Gumbasa dalam pembukaan MTQ ke VII tingkat Kabupaten Sigi, kepala desa Pakuli memberikan support dan semangat bagi seluruh peserta, serta berterima kasih kepada seluruh peserta, tim dan semua pihak yang berpartisipasi.

"Kami berharap bahwa seluruh peserta dapat berkonsentrasi penuh, yakinkan diri, ingat bahwasanya tujuan utama adalah menyampaikan nilai – nilai keagamaan. Adapun jika kita mendapatkan juara,itu adalah bonus. Kejarlah akhirat makan dunia akan mengejarmu." Pungkas Pak Kades Pakuli.(AH)

Foto Berita
Menang !!! PS. Mantendo Pakuli Menuju FInal

29 November 2021

Salam Olahraga. Minggu (28/11) Tim sepakbola PS Mantendio Pakuli, Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi  sukses meraih kemenangan dengan skor 2-0 atas Tim sepakbola Tenaga Baru Beka kecamatan Dolo Selatan di Liga Muhidin Cup yang berlangsung di Desa Sunju, Kecamtan Marawawola. Tim PS. Mantendo yang dipimpin oleh Aimar sebagai kapten, sukses mengantarkan timnya menuju Final. Laga yang berlangsung selama 90 menit pada minggu sore tersebut, disaksikan langsung oleh sebagian besar penduduk Pakuli maupun dari desa lainnya yang begitu semangat memberikan support.

Pada babak pertama, Mantendo dengan menggunakan seragam berwarna Hitam, mendominasi Lini Permainan hingga berhasil menjebol jantung bertahan lawan. Gol yang dihasilkan melalui tendangan keras Kaki Pemain Nomor Punggung 10, Apri Alias Ojo pada menit ke 19, selang  sepuluh menit setelah gol dari ojo, PS mantendo kembali menjebol gawang Tenaga Baru Beka melalui Kaki Pemain bernomor punggung 9,  M.Syahril  pada menit ke 29. Skor 2-0 pun bertahan hingga turun minum.

di babak kedua, kedua tim saling jual beli serangan. Namun pada menit ke 82, salah satu pemain tenaga baru Beka mendapat Kartu Merah akibat pelanggaran keras yang dilakukan kepada salah satu pemain mantendo. Hingga akhir pertandingan skor 2-0 membawa PS Mantendo Meraih kemenangan dan Menuju Final Piala Muhidin CUP.

“kami senang sekali, usaha yang kami lakukan meskipun cukup sulit untuk menembus jantung pertahanan lawan, berkat kerjasa tim serta doa dan dukungan masyarakat, kami bisa meraih skor 2-0” ujar Aimar

Lanjut Aimar Mengatakan, “Laga di hari minggu Depan tentu akan membutuhkan kerja keras serta tenaga yang lebih tinggi, mengingat lawan pada laga final adalah tuan rumah yang cukup kuat. Selain Kerjasama Tim, Do’a dan dukungan Seluruh masyakat pakuli sangat Kami butuhkan”.

Pada Laga Final Nanti, PS. Mantendo Pakuli, Akan Berhadapan dengan Tuan Rumah Patriot Sunju yang dilangsungkan pada hari Minggu (05/12) Mendatang.(rz.)

 

Foto Berita
Begini Kearifan Lokal Pengelolaan Hutan untuk Pengobatan di Desa Pakuli Induk Sigi

02 November 2021

Masyarakat adat umumnya memiliki beragam pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun temurun. Salah satunya terkait pengetahuan obat-obatan tradisional, memanfaatkan beragam tanaman yang ada di sekitar ataupun dari dalam hutan.

Kearifan lokal terkait pengobatan tradisional ini bisa juga kita temukan di Desa Pakuli Induk, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Di desa yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Lore Lindu ini bermukim masyarakat adat Kaili dari beragam macam sub suku, seperti Kaili Ado sebagai mayoritas, Kaili Ledo, Kaili Moma dan Kaili Da’a.

Dalam sebuah kunjungan ke desa ini akhir Agustus 2017 silam, difasilitasi Yayasan Perspektif Baru (YPB), kami berkunjung ke sebuah kebun tanaman obat yang dikelola oleh puluhan pemuda dan anak-anak dari Panti Asuhan Assyfa. Meski tak begitu luas, di lahan ini diperkirakan terdapat 400 jenis tanaman obat, yang sebagian merupakan tanaman khas setempat.

Risfa (21), salah seorang pengelola, dengan fasih menyebutkan beragam nama tanaman di kebun tersebut. Tidak hanya mengetahui nama jenis tanaman dan kegunaannya, ia juga bisa meraciknya menjadi obat penyembuh banyak penyakit. Pengetahuan ini diperoleh dari Haji Sahlan, penggagas kebun tanaman obat tersebut.

“Kami awalnya diajari Pak Haji Sahlan, cuma sekarang beliau lebih banyak di Kota Palu buka praktek pengobatan tradisional di sana, jadi kami anak panti ini yang mengurus kebun ini sekarang,” jelas Risfa.

Haji Sahlan sendiri telah lama dikenal sebagai ahli pengobatan alternatif. Konon pengetahuan ini diperoleh dari orang tuanya yang merupakan orang asli Kaili. Karena kegemarannya mengoleksi tanaman obat, pada tahun 1999, kepala desa setempat memberikan lahan sekitar 1 hektar untuk ditanami tanaman obat.

Risfa lalu menunjuk sebuah tanaman yang dikenal dengan nama lokal kada buku, yang berarti ‘kaki pendek’. Memanfaatkan daunnya, tanaman ini bisa menyembuhkan luka luar.

Tanaman lain yang ditunjukkan Risfa adalah kanuna, biasa digunakan warga setempat untuk mengobati penyakit kista dan payudara pada perempuan.

Ada juga tanaman keji beling, yang biasanya digunakan untuk obat ginjal, usus buntu, dan usus turun. Ada pula kulei, tanaman berwarna merah yang digunakan untuk obat sakit mata dengan meneteskan cairan dari daging pohonnya. “Biasanya tiga kali pemakaian sudah ada perubahan,” sambil menjelaskan tanaman yang disebut mayana, yang bisa menyembuhkan batuk pada anak.

Finra, pengelola kebun yang lain, kemudian menunjukkan tanaman lain, yaitu akar tanaman yang telah dibersihkan. Tanaman tersebut disebut tudong layu, yang berarti ‘berdiri berjalan’. Warga desa setempat mengenalnya sebagai ginseng lokal karena digunakan sebagai obat kuat untuk laki-laki.

“Paling bagus dicampur dengan telur dan madu. Minuman obat kuat Kuku Bima itu katanya menggunakan tanaman ini,” ujarnya sambil tertawa.


Ada juga sebuah pohon besar yang disebut lengaru atau disebut juga Kayu Telur. Kulit luar tanaman ini dikupas lalu dicacah kecil-kecil. Khasiatnya bermacam-macam, mulai dari sakit kepala, haid yang tidak lancar, kista, ginjal dan beragam penyakit lainnya.

Tanaman lain yang berupa pohon adalah pohon bila. Daun pohon yang buahnya beracun ini ternyata ampuh untuk mengobati penyakit gondok, asam urat dan rematik.

Menurut Finra, dari ratusan tanaman yang ada, sebagian besar pemesanan racikan untuk penyakit ginjal. Tanaman-tanaman tersebut kini dikomersilkan, yang keuntungannya digunakan untuk pembiayaan panti asuhan. Dalam satu kemasan biasanya terdiri dari 3-4 tanaman, tergantung jenis penyakitnya, yang dijual dengan harga Rp30 ribu per kemasan.

Panti Asuhan Assyfa sendiri kini menampung 70 orang anak yatim piatu. Mereka lah yang biasa menjaga dan memelihara kebun tersebut. Termasuk menambah tanaman jika dianggap sudah semakin berkurang. Pemeliharaan tanaman-tanaman tersebut tidak memerlukan perlakukan khusus. Tak ada pemupukan ataupun pemakaian pestisida. Penghuni panti yang sudah dewasa biasanya kebagian tugas mencari tanaman di dalam hutan.

Menurut Zainal, penghuni panti yang kini sudah mandiri dan bekerja di sebuah perusahaan di Palu, meski dikelola oleh panti, masyarakat setempat bisa mengambil tanaman obat yang ada dalam kebun, meski harus meminta izin dulu pada pengelola.

“Tanaman-tanaman di kebun sebenarnya banyak juga ditemukan di sekitar desa ini, tapi kalau susah mencari bisa ke kebun mengambil secara gratis, cuma tetap harus ada izin dulu dari pengelola,” ujarnya.

Menurut Amran Tambaru, dari Simpul Layanan Pemetaan Partisipatif (SLPP) Sulteng, pemanfaatan tanaman untuk pengobatan tradisional di Desa Pakuli Induk ini terkait kepercayaan masyarakat yang masih mengandalkan dukun atau sando sebagai penyembuh penyakit. Ketika sakit, masyarakat Pakuli Induk memang lebih dominan ke sando dibanding ke dokter.

Sando dianggap memiliki kemampuan menyembuhkan yang lebih efektif. Bahkan di kampung saya di komunitas adat Wana, para dukun yang disebut taufalia memiliki kemampuan unik untuk memindahkan penyakit ke medium lain.”


Adat Turut Menjaga Hutan

Menurut Zainal, selain kaya dengan tanaman-tanaman obat, kawasan hutan di sekitar desa juga menjadi tempat berkumpulnya burung Maleo. Bahkan di salah satu titik di dalam hutan terdapat penangkaran Maleo, meski kini sudah tidak terkelola dengan baik. Apalagi lokasinya kini susah diakses karena jalurnya terputus beberapa tahun silam.

Burung Maleo tersebut dijaga selain karena adanya aturan pemerintah juga karena satwa ini juga disakralkan masyarakat setempat. Perburuan burung ini dilarang keras dan akan ada sanksi adat berat bagi yang melanggar.

“Kalau ada yang berani menangkap bisa kena denda kerbau. Karena sekarang kerbau susah diperoleh maka diganti dengan sapi atau barang lain senilai kerbau.”

Tidak hanya perburuan burung Maleo, aktivitas penebangan pohon di dalam hutan pun memiliki aturan tersendiri. Pohon hanya bisa ditebang jika digunakan untuk kepentingan pembangunan rumah dan itu pun harus seizin dari desa dan adat. Lokasi penebangan pun tidak bisa seenaknya, tapi harus di lokasi yang ditunjuk oleh Pemdes dan adat. Sanksi bagi yang melanggar bisa kena denda adat berupa uang, piring, kambing, kerbau atau sapi.